About

Terjemahken

Selasa, 31 Januari 2012

Agak gak nyambung :S


Jadi pembacas sekalian, menurut mitos yang beredar, kalo malem-malem itu otak manusia dapat berimajinasi tinggi, tanpa ada suatu sebab akibat. Ternyata itu bener! Gue sendiri pernah merasakannya..

Nah jadi dimalam itu, tumben-tumbennya gue ngga galau mikirin cewek tapi ada sesuatu yang bikin nganjel dipikiran gue. Tanpa gue sadari, ternyata imajinasi gue udah menguasai otak gue. Rasanya pengen banget buat film yang bertemakan “Perjuangan seorang anak miskin untuk mengapai cita-citanya” tapi awalnya ga langsung buat film, pasti dibikin cerita dulu.. nah begini ceritanya.. jangan tidur yaaa, kalo mau tidur bilang, jangan langsung ditinggalin :(

Anak Bangsa

Terik matahari yang begitu panas. Desa kecil di pinggiran kota Jakarta itulah tempatku. Rel kereta api inilah menjadi tempat dimana aku biasa membasuh penatku. Kenalkan aku gylang, seorang anak miskin yang tidak mempunyai apa-apa. Hanya bermodalkan tekad baja untuk melewati hari-hari yang keras dan kejam. Ibuku telah tiada sejak aku dilahirkan. Dan ayahku… ayahku adalah seorang pengangguran yang sering  mabuk-mabukan. Entah mengapa beliau begitu tidak menyayangiku. Tapi aku hanya dapat menahan itu . mulai dari umur 7 tahun aku bekerja. Pekerjaan yang begitu rendah penghasilan yang cukup untuk makan nasi tahu. Penjual Koran yang beruntung bisa tamat dari kelas 6 SD. Setiap hari aku membaca sedikit demi sedikit dari Koran yang tidak terjual. Berita yang paling kusukai adalah berita politik. Namun dari satu sisi aku sangat benci dengan adanya politik. Pikiranku politik itu hanya dapat membuat rakyat sepertiku sengsara dan kelaparan. Itulah yang membuat aku ingin sekali merubah keaadan tersebut dengan menjadi Presiden. Ketika aku bercerita akan cita-citaku yang ingin menjadi seperti SBY, semua orang hanya tertawa yang seakan mengejek diriku. Semua hal itu tidak membuatku takut dan berhenti mencoba.

Suatu hari, sepulang dari berjualan Koran, aku melewati Jl. Sudirman. Tepat di Bundaran HI ku lihat semua orang berdiri sambil berteriak seperti ingin rusuh. Ku Tanya pada salah seorang yang ikut dalam perseteruan itu “Permisi Pak, numpang nanya ini ada apa ya?” dia menolehku dan berkata “Ini sedang ada demo Dik.” “Demo tentang apa Pak?” ku Tanya lagi. Dia pun kembali menjawab “Presiden kita tidak mau bertanggung jawab atas orang-orang yang kelaparan yang ada di desa Kalinyaman.” “Oh itu memang benar sekali Pak. Seharusnya Presiden mau bertindak sesuatu sebelum mereka mati kelaparan!” jawabku keras. “Wah, ternyata adik mengerti akan hal itu. Nama adik siapa?” tanyanya sambil terkagum. “Namaku Gylang pak. Nama Bapak siapa?” “Perkenalkan nama bapak Susanto, salah satu ketua forum organisasi ini. Adik tinggal dimana?” “ohh, Aku tinggal di Jl. Pandeglang di dekat rel kereta api.” Sejenak terpikir di benak bapak Susanto.”Yang ada rumah liar itu ya?” dengan lembut dia berkata itu, mungkin takut membuatku tersinggung. “Ya benar pak.” “Ayo Bapak antar pulang.” Dan akupun menerima ajakan pas Susanto, dan aku pin diantar pulang, tetapi pada saat itu Ayahku belum pulang. Jadi aku diajak ke rumah pak Susanto yang tidak jauh dari rumahku. Rumahnya besar, atap bak istana mungkin karena aku baru pertama kali melihatnya. Disana kuceritakan semua tentang ku, dari hal kecil sampai yang besar. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 6 sore. Aku pun pamit pulang sendiri takut merepotkan pak Susanto.

Setiap hari aku mengunjungi rumah pak Susanto yang sepi tidak ada anggota keluarga selain 5 pembantu dan 1 sopir yang menjaa. Dengan menonton TV yang baru aku lihat bentuknya, sedikit demi sedikit aku mulai mengerti bagaimana mengoperasikannya. Pada hari Rabu tanggal 14 Februari 2009. Hari yang tak pernah terlupakan di benakku. Aku pulang ke rumah jam 11 malam. Aku terlambat karena aku sempat ditabrak becak dan dirawat selama 3 jam di rumah sakit. Sesampai dirumah, ayahku langsung memarahiku sambil menodongkan sebilah pisau ke arahku. “Ada apa ini Ayah?” aku bertanya sambil ketakutan “Kau.. cepat pergi dari sini! Aku sudah muak melihatmu! Tidak ada penghasilan, pulang malam lagi!” “Tapi.. anu..” “Tak usah menjawab! Cepat pergi atau kubunuh kau!” aku pun mengalah dan keluar dari rumah sambil menangis dan bingung. Dipikaranku hanya ingin bunuh diri. Tetapi entah darimana mukjizat datang, aku bertemu pak Susanto yang pulang dari kantornya dan mengajak ku kerumahnya. Aku pun menceritakan kejadian itu. Pak susanto sempat ingin melaporkannya ke Polisi, tapi aku menolak karena aku tidak mau Ayahku sendiri masuk ke bui.

Akhirnya aku pun tinggal di rumah pak Susanto. Aku mulai disekolahkan kembali dan berbagai macam keperluan yang aku butuhkan dipenuhi olehnya. Dia menganggapku sebagai anaknya sendiri. Saat umurku menginjak 17 tahun, 4 tahun sejak ayahku mengusirku, aku sudah mengerti tentang bagaimana hokum, keadilan dan politik itu. Aku senang sekali bersosialisasi, membantu orang-orang miskin, membuat sekolah bagi anak jalanan dengan biaya gratis. Ayah angkatku menyuruhku untuk melanjutkan sekolah ku yaitu pada jenjang kuliah. Aku masuk fakultas hokum untuk melanjutkan cita-cita menjadi presiden. Aku belajar dengan giat. Juara umum terbaik aku raih, sehingga membuat salah satu dosen yang bernama pak Rahmat kagum dengan hasil yang kuraih. Tapi saat semester 5 tahun 2018, disaat kuliahku hamper hais aku kembali terkena bencana. Mobil Alphard hitam yang ditumpangi ayahku menabrak pagar pembatas jalan. Ayahku yang saat itu duduk di kursi belakang yang lebih mengenai pagar pembatas itu sehingga membuat nyawanya tidak tertolong. Dalam larutnya kesedihanku, aku seperti dibangunkan oleh 2 cahaya yang mengajakku untuk kembali bangkit. Tapi saudara dari pak Susanto yang datang begitu saja, tidak menyetujuiku melanjutkan kuliah S2. Aku memang tidak punya hak untuk mendapatkan apapun dari harta itu. Akupun diusir dan kembali hidup dijalanan. Tapi itu tidak lama, karena kemudian aku diajak oleh dosen yang tlah lama tidak kujumpai untuk menjadi asistennya d Universitas Gajah Mada. Akupun menyetujuinya dari hasil pekerjaan itu kusisihkan untuk melanjutkan kuliahku. Berjualan Koran seperti tidak membuatku malu karena didukung tekad yang bulat. Akhirnya pada tahun ke 4 aku mendapat beasiswa dari UI untuk melanjutkan kuliah S3 di Harvard University dan wisudaku dipercepat. Aku sangat berterima kasih kepada pak Rahmat yang sudah memberiku kesempatan untuk melanjutkan mimpiku. Tahun 2024 tanggal 16 Desember aku berangkat ke Amerika dan belajar sampai akhirnya aku luus S3. Aku dianugrahi gelar Professor pada saat umurku 30 tahun. Semua itu berkat doa dan kerja kerasku selama ini. Selama itu pula aku banyak membantu rakyat jelata untuk dapat menambah kebutuhan hidupnya. Akhirnya akupun berniat untuk menjadi Presiden. Akupun mencalonkan diri.

Debut pertamaku untuk meyakinkan  semua rakyat dimyulai dengan mengadakan pidato. Seperti lautan manusia, aku berpidato didepan semua rakyat dan meyakinkan mereka bahwa akulah yang pantas menjadi pemimpin periode 2034-2039. Tanpa kusadari ayahku menonton dari TV temannya sambil berteriak ”Itu anakku yang selama ini kucari!” ternyata ayahku menyesal terhadap kepergianku itu dan segera pergi ke tempat aku berpidato, karena tidak jauh dari rumah temannya. Dengan suara yang seperti pernah ku dengar, aku pun menoleh kesampingku. Aku tersentak ketika ku lihat dia adalah ayahku. Aku pun menitihkan air mata dan segera meminta maaf. “Ayah, maafkan aku selama ini aku telah durhaka kepadamu.” “Tidak nak, ayahlah yang seharusnya meminta maaf karena telah melantarkanmu begitu saja.” Kami pun berpelukan. Suasana yang sebelumnya rami berubah menjadi haru. Akhirnya  kupersilahkan ayahku untuk tinggal bersamaku lagi.
Pada saat pemilihanakan berlangsung, aku tidak yakin dapat memenangkannya. Tetapi tak kusangka perolehan terbesar adalah milikku dan aku berhak menjadi Presiden Indonesia. Satu demi satu perubahan terjadi. Angka kemiskinan menurun, korupsi keadilan disana-sini sangat ditegakkan. Semua pasal pun akhirnya terlasksana dengan baik. Dakn aku berhasil kembali dan semua keinginankupun terwujud…

SELESAI

Begitulah choy yang ada dipikiranku malam itu. Mujurnya pas di sekolah, gue dikasih tugas ngebuat cerpen. Dan akhirnya gue kumpul dah nih cerpen. Tapi malangnya cerpen gue ngga dinilai sama gurunya-_- mungkin ceritanya terlalu bagus dan hebat :o haha..

Karena saya diharuskan menulis kata bijak disetiap cerita saya, maka saya akan melaksanakannya. Dari cerita tadii kita dapat mengambil petikan bahwa di dalam hidup itu jangan tumbuhkan kata “Menyerah”. Tetaplah optimis, bekerja keras dan diiringi dengan doa maka sahabat yang biasa-biasa aja sekalian dapat meraih keberhasilan dalam hal apapun. Bahkan dalam menghilangkan kegalauan. Ingatlah, apabila ada niat, pasti ada jalann.. see you next post :) 

Dilayangkan Oleh : Persona Gemilang

0 Prinsip Kalian._.:

Free G KristenITC Cursors at www.totallyfreecursors.com