Jadi pembacas sekalian, menurut mitos yang beredar, kalo
malem-malem itu otak manusia dapat berimajinasi tinggi, tanpa ada suatu sebab
akibat. Ternyata itu bener! Gue sendiri pernah merasakannya..
Nah jadi dimalam itu, tumben-tumbennya gue ngga galau
mikirin cewek tapi ada sesuatu yang bikin nganjel dipikiran gue. Tanpa gue
sadari, ternyata imajinasi gue udah menguasai otak gue. Rasanya pengen banget
buat film yang bertemakan “Perjuangan seorang anak miskin untuk mengapai
cita-citanya” tapi awalnya ga langsung buat film, pasti dibikin cerita dulu..
nah begini ceritanya.. jangan tidur yaaa, kalo mau tidur bilang, jangan
langsung ditinggalin :(
Anak Bangsa
Terik matahari yang begitu panas. Desa kecil di pinggiran
kota Jakarta itulah tempatku. Rel kereta api inilah menjadi tempat dimana aku
biasa membasuh penatku. Kenalkan aku gylang, seorang anak miskin yang tidak
mempunyai apa-apa. Hanya bermodalkan tekad baja untuk melewati hari-hari yang
keras dan kejam. Ibuku telah tiada sejak aku dilahirkan. Dan ayahku… ayahku
adalah seorang pengangguran yang sering mabuk-mabukan.
Entah mengapa beliau begitu tidak menyayangiku. Tapi aku hanya dapat menahan
itu . mulai dari umur 7 tahun aku bekerja. Pekerjaan yang begitu rendah
penghasilan yang cukup untuk makan nasi tahu. Penjual Koran yang beruntung bisa
tamat dari kelas 6 SD. Setiap hari aku membaca sedikit demi sedikit dari Koran yang
tidak terjual. Berita yang paling kusukai adalah berita politik. Namun dari
satu sisi aku sangat benci dengan adanya politik. Pikiranku politik itu hanya
dapat membuat rakyat sepertiku sengsara dan kelaparan. Itulah yang membuat aku
ingin sekali merubah keaadan tersebut dengan menjadi Presiden. Ketika aku
bercerita akan cita-citaku yang ingin menjadi seperti SBY, semua orang hanya
tertawa yang seakan mengejek diriku. Semua hal itu tidak membuatku takut dan
berhenti mencoba.
Suatu hari, sepulang dari berjualan Koran, aku melewati Jl. Sudirman.
Tepat di Bundaran HI ku lihat semua orang berdiri sambil berteriak seperti
ingin rusuh. Ku Tanya pada salah seorang yang ikut dalam perseteruan itu “Permisi
Pak, numpang nanya ini ada apa ya?” dia menolehku dan berkata “Ini sedang ada
demo Dik.” “Demo tentang apa Pak?” ku Tanya lagi. Dia pun kembali menjawab “Presiden
kita tidak mau bertanggung jawab atas orang-orang yang kelaparan yang ada di
desa Kalinyaman.” “Oh itu memang benar sekali Pak. Seharusnya Presiden mau bertindak
sesuatu sebelum mereka mati kelaparan!” jawabku keras. “Wah, ternyata adik
mengerti akan hal itu. Nama adik siapa?” tanyanya sambil terkagum. “Namaku
Gylang pak. Nama Bapak siapa?” “Perkenalkan nama bapak Susanto, salah satu
ketua forum organisasi ini. Adik tinggal dimana?” “ohh, Aku tinggal di Jl.
Pandeglang di dekat rel kereta api.” Sejenak terpikir di benak bapak Susanto.”Yang
ada rumah liar itu ya?” dengan lembut dia berkata itu, mungkin takut membuatku
tersinggung. “Ya benar pak.” “Ayo Bapak antar pulang.” Dan akupun menerima
ajakan pas Susanto, dan aku pin diantar pulang, tetapi pada saat itu Ayahku
belum pulang. Jadi aku diajak ke rumah pak Susanto yang tidak jauh dari
rumahku. Rumahnya besar, atap bak istana mungkin karena aku baru pertama kali
melihatnya. Disana kuceritakan semua tentang ku, dari hal kecil sampai yang
besar. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 6 sore. Aku pun pamit pulang
sendiri takut merepotkan pak Susanto.
Setiap hari aku mengunjungi rumah pak Susanto yang sepi
tidak ada anggota keluarga selain 5 pembantu dan 1 sopir yang menjaa. Dengan menonton
TV yang baru aku lihat bentuknya, sedikit demi sedikit aku mulai mengerti
bagaimana mengoperasikannya. Pada hari Rabu tanggal 14 Februari 2009. Hari yang
tak pernah terlupakan di benakku. Aku pulang ke rumah jam 11 malam. Aku terlambat
karena aku sempat ditabrak becak dan dirawat selama 3 jam di rumah sakit. Sesampai
dirumah, ayahku langsung memarahiku sambil menodongkan sebilah pisau ke arahku.
“Ada apa ini Ayah?” aku bertanya sambil ketakutan “Kau.. cepat pergi dari sini!
Aku sudah muak melihatmu! Tidak ada penghasilan, pulang malam lagi!” “Tapi.. anu..”
“Tak usah menjawab! Cepat pergi atau kubunuh kau!” aku pun mengalah dan keluar
dari rumah sambil menangis dan bingung. Dipikaranku hanya ingin bunuh diri. Tetapi
entah darimana mukjizat datang, aku bertemu pak Susanto yang pulang dari
kantornya dan mengajak ku kerumahnya. Aku pun menceritakan kejadian itu. Pak susanto
sempat ingin melaporkannya ke Polisi, tapi aku menolak karena aku tidak mau
Ayahku sendiri masuk ke bui.
Akhirnya aku pun tinggal di rumah pak Susanto. Aku mulai disekolahkan
kembali dan berbagai macam keperluan yang aku butuhkan dipenuhi olehnya. Dia menganggapku
sebagai anaknya sendiri. Saat umurku menginjak 17 tahun, 4 tahun sejak ayahku
mengusirku, aku sudah mengerti tentang bagaimana hokum, keadilan dan politik
itu. Aku senang sekali bersosialisasi, membantu orang-orang miskin, membuat
sekolah bagi anak jalanan dengan biaya gratis. Ayah angkatku menyuruhku untuk
melanjutkan sekolah ku yaitu pada jenjang kuliah. Aku masuk fakultas hokum untuk
melanjutkan cita-cita menjadi presiden. Aku belajar dengan giat. Juara umum
terbaik aku raih, sehingga membuat salah satu dosen yang bernama pak Rahmat
kagum dengan hasil yang kuraih. Tapi saat semester 5 tahun 2018, disaat
kuliahku hamper hais aku kembali terkena bencana. Mobil Alphard hitam yang
ditumpangi ayahku menabrak pagar pembatas jalan. Ayahku yang saat itu duduk di
kursi belakang yang lebih mengenai pagar pembatas itu sehingga membuat nyawanya
tidak tertolong. Dalam larutnya kesedihanku, aku seperti dibangunkan oleh 2
cahaya yang mengajakku untuk kembali bangkit. Tapi saudara dari pak Susanto
yang datang begitu saja, tidak menyetujuiku melanjutkan kuliah S2. Aku memang
tidak punya hak untuk mendapatkan apapun dari harta itu. Akupun diusir dan
kembali hidup dijalanan. Tapi itu tidak lama, karena kemudian aku diajak oleh
dosen yang tlah lama tidak kujumpai untuk menjadi asistennya d Universitas
Gajah Mada. Akupun menyetujuinya dari hasil pekerjaan itu kusisihkan untuk
melanjutkan kuliahku. Berjualan Koran seperti tidak membuatku malu karena
didukung tekad yang bulat. Akhirnya pada tahun ke 4 aku mendapat beasiswa dari
UI untuk melanjutkan kuliah S3 di Harvard University dan wisudaku dipercepat. Aku
sangat berterima kasih kepada pak Rahmat yang sudah memberiku kesempatan untuk
melanjutkan mimpiku. Tahun 2024 tanggal 16 Desember aku berangkat ke Amerika
dan belajar sampai akhirnya aku luus S3. Aku dianugrahi gelar Professor pada
saat umurku 30 tahun. Semua itu berkat doa dan kerja kerasku selama ini. Selama
itu pula aku banyak membantu rakyat jelata untuk dapat menambah kebutuhan
hidupnya. Akhirnya akupun berniat untuk menjadi Presiden. Akupun mencalonkan
diri.
Debut pertamaku untuk meyakinkan semua rakyat dimyulai dengan mengadakan
pidato. Seperti lautan manusia, aku berpidato didepan semua rakyat dan
meyakinkan mereka bahwa akulah yang pantas menjadi pemimpin periode 2034-2039. Tanpa
kusadari ayahku menonton dari TV temannya sambil berteriak ”Itu anakku yang
selama ini kucari!” ternyata ayahku menyesal terhadap kepergianku itu dan
segera pergi ke tempat aku berpidato, karena tidak jauh dari rumah temannya. Dengan
suara yang seperti pernah ku dengar, aku pun menoleh kesampingku. Aku tersentak
ketika ku lihat dia adalah ayahku. Aku pun menitihkan air mata dan segera
meminta maaf. “Ayah, maafkan aku selama ini aku telah durhaka kepadamu.” “Tidak
nak, ayahlah yang seharusnya meminta maaf karena telah melantarkanmu begitu
saja.” Kami pun berpelukan. Suasana yang sebelumnya rami berubah menjadi haru. Akhirnya
kupersilahkan ayahku untuk tinggal
bersamaku lagi.
Pada saat pemilihanakan berlangsung, aku tidak yakin dapat
memenangkannya. Tetapi tak kusangka perolehan terbesar adalah milikku dan aku
berhak menjadi Presiden Indonesia. Satu demi satu perubahan terjadi. Angka kemiskinan
menurun, korupsi keadilan disana-sini sangat ditegakkan. Semua pasal pun
akhirnya terlasksana dengan baik. Dakn aku berhasil kembali dan semua
keinginankupun terwujud…
SELESAI
Begitulah choy yang ada dipikiranku malam itu. Mujurnya pas
di sekolah, gue dikasih tugas ngebuat cerpen. Dan akhirnya gue kumpul dah nih
cerpen. Tapi malangnya cerpen gue ngga dinilai sama gurunya-_- mungkin
ceritanya terlalu bagus dan hebat :o haha..
Karena saya diharuskan menulis kata bijak disetiap cerita
saya, maka saya akan melaksanakannya. Dari cerita tadii kita dapat mengambil
petikan bahwa di dalam hidup itu jangan tumbuhkan kata “Menyerah”. Tetaplah optimis,
bekerja keras dan diiringi dengan doa maka sahabat yang biasa-biasa aja
sekalian dapat meraih keberhasilan dalam hal apapun. Bahkan dalam menghilangkan
kegalauan. Ingatlah, apabila ada niat, pasti ada jalann.. see you next post :)
Dilayangkan Oleh : Persona Gemilang
Dilayangkan Oleh : Persona Gemilang

0 Prinsip Kalian._.:
Posting Komentar